CERPEN

Siang

Hari itu bermula mendung. Dia melemparkan pandangannya kearah jendela yang betul-betul dihadapannya itu. Terlihat sedikit cahaya yang berusaha menerobos di celah-celah langsir yang berwarna merah hati itu. Dia merenung kipas siling yang ligat berputar tidak jauh di atasnya itu.

Siang.

Kembali siang lagi.

Entah kali keberapa dia menyapa siang dengan termenung sahaja. Jika ada hari yang dirasanya mahu berubah; lebih baik- hari ini lah. Hari ini dia mahu menjadi lebih baik, lebih fokus dan lebih sedar akan dirinya, dan sekelilingnya. Cukuplah dengan segala calar yang dia lalui, segala kesilapan yang tak kunjung henti, atau segunung khayalan dusta yang bermain di lorong mindanya untuk sekian lamanya. Dirasanya cukup-cukuplah dengan segalanya itu, jelek rasanya ber-hidupan seperti itu.

Maka, siang itu beransur perlahan-lahan menjadi dhuha, lalu menjadi tengah hari, petang dan akan malam lagi. Begitunya siang berubah,hari demi hari – dengan cepat.

Advertisements
Standard

Speak your mind here! :]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s